SELAMAT DATANG

ini adalah situs yang memberikan informasi seputar Sejarah Labuhanbatu dan keberadaan Kerajaan-kerajaannya dimasa lalu. Daerah-daerah yang saling berhubungan akan dipublikasikan. Juga dilengkapi film-film tempo dulu, photo-photo lama dan photo-photo yang berkaitan dengan budaya, adat dan istiadatnya, serta pemerintahan di masa penjajahan.

Jumat, 22 April 2011

BERINAI DAN BERANDAM

Posted by winzCyber 07.09, under | No comments

Sebelum dilaksanakannya akad nikah atau peresmian perkawinan esok harinya, pada malam harinya kedua mempelai (di rumah masing-masing) meminta restu dari family-family yang tua-tua. Mereka juga akan ditepung tawari.

Selain itu juga, pada malam tersebut diadakan Berinai dan Berandam. Pada malam tersebut pihak keluarga si gadis (mempelai wanita) dengan rombongan kecil mengantar inai dan tepung tawar kepada keluarga mempelai laki-laki. Sebagai tanda terima kasih dari pihak mempelai laki-laki, maka membalasnya dengan memberikan kain, cermin, bedak dan lainnya kepada pihak mempelai wanita.

Cara berinai ini yaitu : kuku dan ujung jari tangan dan kaki dibungkus atau ditutupi dengan inai (sejenis tumbuhan yang kemudian ditumbuk halus). Inai yang telah dibalurkan ke jari atau kuku akan meninggalkan warna kuning kecoklatan. Selain jari dan kuku, bagian tepi telapak tangan dan kaki, juga telapak tangan diberikan inai, hal ini ditafsirkan untuk menambah tenaga ghaib dan mengusir setan.

Selain berinai, juga dilakukan Berandam terhadap mempelai wanita. Acara Berandam ini yaitu dengan cara memotong / menggunting sedikit-sedikit rambutnya agar cantik ketika didandan.

Sebenarnya masih ada lagi yang dilakukan sebelum diadakannya masa perkawinan ini, namun sekedar ini saja yang dapat dituliskan, mengingat terlalu banyak dan terlalu panjang. Harap maklum.


MERISIK ATAU JUGA TELANGKAI

Posted by winzCyber 06.41, under | No comments

Apabila suatu keluarga mempunyai seorang gadis yang telah dewasa (akil baligh) dan ada seorang pemuda yang menginginkan dirinya, maka si pemuda secara tidak langsung akan memberitahukannya pada kedua orang tuanya.. Jika kedua orang tua si pemuda menyetujuinya, maka ditugaskanlah secara diam-diam seorang wanita setengah baya (bisa tetangga atau kerabat jauh) untuk menyelidiki si gadis (dinamakan "Merisik").

Tugas merisik ini untuk melihat keadaan si gadis, sifat baik dan buruknya, juga keluarganya. Setelah itu, maka orang yang melakukan tugas penyelidikan ini akan membicarakan akan niatnya kepada keluarga si gadis.
Diterima atau tidaknya permintaan si Telangkai, biasanya keluarga si gadis akan meminta waktu beberapa hari untuk menjawabnya. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan keluaraga si gadis untuk menyelidiki pula keadaan si pemuda dan orangtuanya. Keluarga si gadis juga akan memberikan satu (1) hari bagi si Telangkai untuk datang kembali untuk memberi kesimpulan tentang maksud dan tujuannya.

Proses selanjutnya, si Telangkai datang kembali sesuai hari yang ditetapkan pihak keluarga si gadis untuk menerima kabar. Jika ternyata keluaraga si gadis tidak menyetujui atau melakukan penolakan, maka penolakan itu dilakukan dengan sangat sopan dengan alasan yang dapat diterima oleh si Telangkai. Misalnya : "anak kami belum ada niat untuk berumah tangga karena masih ingin menuntut ilmu (sekolah)."

Cara penolakan lamaran ini dilakukan dengan sopan agar tidak terjadi rasa sakit hati pada si pemuda. Jika si pemuda tahu diri, maka hal atau niat untuk melamar si gadis tidak akan diperpanjang lagi. Lalu bagaimana jika ternyata keluarga si gadis menyetujui niat si Telangkai?

Apabila keluarga si gadis menerima baik pinangan si pemuda, penerimaan ini akan diberitahukan  kepada si Telangkai dengan basa basi adat yang memburukkan keadaan si gadis. Misalnya :"anak kami tak begitu cantik, memasak pun belum begitu pandai, pendidikan pun hanya sekedarnya saja. Jika pun ada pemuda yang mengharapkannya, maka perlulah anak kami dituntun."

Setelah adanya penerimaan yang baik dari keluarga si gadis, maka si Telangkai langsung memberitahukannya kepada keluarga si pemuda. Acara selanjutnya adalah dengan membuat ketetapan hari untuk menyambung pembicaraan terdahulu yaitu acara meminang. Dengan adanya menetapkan waktu kapan acara meminang, artinya tugas si Telangkai telah berakhir.


Pada daerah lain (melayu), hal mengenai Telangkai ini, ada juga yang menjadi tugas yang diberikan oleh Kerajaan atau yang dinamakan "Penghulu Telangkai". Kalau di Bilah dan Panai, hal ini tidak terlalu dipentingkan, karena hal "merisik" ini sedapat mungkin orang lain jangan ada yang mengetahuinya. Kecuali jika ternyata keluarga si gadis menerima lamaran. Jika ternyata keluarga si gadis menolak? Tentu ada-ada saja perkataan dari orang lain yang bersifat negatif.

Selasa, 19 April 2011

Maharaja Nulong Dan Si Bongsu Alang

Posted by winzCyber 08.09, under | 2 comments

Ini adalah salah satu kisah atau hikayat yang terdapat di Bilah Hilir, Negerilama yang hampir tak pernah diungkapkan. Namun, orang-orang pada masa dulu banyak juga yang mengetahui akan hikayat Si Bongsu Alang ini.

Jika pun ada orang yang pernah mengungkapkan tentang hikayat ini, ceritanya jauh berbeda dari yang sebenarnya. Mungkin karena faktor sulitnya mencari orang-orang yang benar-benar mengetahui hikayat ini, akhirnya jalan cerita yang ditulis ditambahi atau dibubuhi dengan cara pikir penulisnya sendiri. Namun hal itu tidak apa-apa, yang perlu diambil sisi positifnya yaitu penulisnya telah berusaha untuk mengungkapnya ke khalayak ramai.

oooooooooooooooo000000000000oooooooooooooooo


Pada masa Sutan Yunus berkuasa sebagai Raja Gunung Suasa, salah seorang iparnya yang laki-laki pergi meninggalkan daerah Gunung Suasa setelah dia menikah untuk mencari perkampungan baru. Setelah menyusuri sungai Bilah kehilir, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat, yang kemudian akhirnya dikenal dengan nama Kampung Buluh Mario.

Kampung Buluh Mario ini terletak dipinggir sungai bilah, sekarang tempat ini berada didaerah Sungai Mambang, sekitar 9 km dari pekan Negerilama. Namun nama kampung ini sudah tidak ada lagi, telah hilang ditelan waktu dan mungkin hanya segelintir warga yang pernah mengetahui adanya nama kampung ini.

Menurut kisahnya, ipar dari Sutan Yunus ini mempunyai 7 orang anak, namun 6 orang anaknya meninggal sewaktu masih kecil, akhirnya cuma seorang saja yang hidup untuk menjadi pelipur lara. Anak tersebut mereka beri nama Bongsu Alang, seorang perempuan yang cantik jelita. Lalu, adakah arti dari nama Bongsu Alang tersebut? Bongsu (bungsu) artinya anak terakhir, sementara Alang artinya anak yang ketiga. Maksudnya, karena tak memiliki kakak dan adik, maka jadilah dia yang pertama, ketiga dan terakhir.

Bongsu alang yang berparas cantik ini memiliki rambut yang panjang hingga ke tumit kaki. Lehernya yang jenjang bak pauh dilayang. Banyak lagi perumpamaan yang diberikan orang kepadanya karena kecantikannya.

Namun, dibalik kecantikan wajahnya, terdapat cacat yang tak sesuai dengan kecantikannya. Mungkin karena kecantikannya atau ntah apa, dia memiliki sifat angkuh dan sombong. Kalau diibaratkan dengan perkataan, maka tak obahnya dia itu seperti bunga dalam taman, dilihat boleh dipegang jangan. Pada masa itu sangat banyak pemuda yang ingin mempersunting dirinya, namun akhirnya mereka mundur satu-persatu setelah mengetahui akan sifat buruknya.

Sifat buruk yang dimiliki si Bongsu Alang ini juga dimiliki oleh ibunya yang akhirnya sering dipergunjingkan orang lain. Sangat berbeda dengan sang ayah. Ayahnya mempunyai sifat agak pendiam, suka membantu para tetangganya, tak pernah mengenal lelah atau jemu dalam membantu orang lain hingga akhirnya banyak disenangi.

Karena dua sifat yang berlawanan inilah maka akhirnya niat oarang-orang kampung ingin menyingkirkan mereka tidak jadi. Karena ayah si Bongsu Alang, maka oarang-orang kampung terpaksa menghormati keluarga ini.

Maharaja Nulong, setelah memindahkan pusat kerajaan ke daerah Teluk Belanti, sedang sibuk dalam menata pemerintahannya. Sebagai seorang pemuda yang sedang meningkat dewasa, Maharaja Nulong juga akhirnya mendengar akan kecantikan si Bongsu Alang. Namun, dia belum berpikir untuk mencari pendamping hidup. Akan tetapi, karena begitu santernya orang-orang membicarakan kecantikan si Bongsu Alang, akhirnya tergerak juga hatinya ingin melihat sampai dimana kecantikanya.
 
Setelah menyelidiki, akhirnya Maharaja Nulong mengetahui bahwa ternyata si Bongsu Alang masih merupakan kerabat dekatnya. Karena masih ada hubungan kerabat yang cukup dekat, akhirnya Maharaja Nulong punya alasan untuk melihat kecantikan si Bongsu Alang dari dekat, dengan alasan datang berkunjung untuk silaturrahmi keluarga.
 
(bersambung)


Jumat, 08 April 2011

LAHIRNYA CABANG-CABANG KETURUNAN KERAJAAN KOTA PINANG

Posted by winzCyber 02.02, under | 6 comments

Selama Batara Guru Gorga Pinayungan menjadi raja di daerah Pinangawan dan Bagan Sinombah, perkembangan sejarah pada masa pemerintahannya kurang begitu jelas diketahui. Batar Guru Gorga Pinayungan wafat disekitar tahun 1569 dalam keadaan yang cukup tua dan dimakamkan di Pinangawan, atau juga dikatakan Marhum Mangkat di Rotan Mumuk, Kotapinang.
Setelah wafat, kekuasaan lalu digantikan oleh anaknya yang bernama Raja Musa (Sutan Musa). Setelah menjadi Raja, lalu Raja Musa memindahkan pusat kerajaan ke daerah Kotapinang yang awalnya berada di daerah Pinangawan.

Ketika Sutan Musa menjadi raja, banyak peristiwa penting yang terjadi, dan membuat pengungkapan sejarah daerah ini semakin terang.
Menurut sejarahnya, Sutan Musa memiliki 2 orang istri. Dari istri yang pertama memiliki 4 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Anak yang pertama bernama Maharaja Awan, anak kedua adalah Raja Abbas, lalu Raja Thahir, dan terakhir adalah Raja Rinto Binuang. Sementara itu anaknya yang perempuan bernama Siti Ungu Selendang Bulan atau juga dinamakan Siti Unei, dan anak perempuana yang terakhir tidak diketahui namanya. Dari istri kedua juga memiliki beberapa orang anak.

Ketika Sutan Musa sudah merasa tua dan merasa tak mampu lagi untuk menjalankan pemerintahan, lalu mengangkat anaknya Maharaja Awan menjadi raja Kotapinang yang ketiga. Salah seorang anaknya dari istri kedua juga menginginkan menjadi raja dan meminta kepada ayahnya (Sutan Musa) agar diangkat menjadi raja. Istri kedua Sutan Musa juga mendukung hal ini dan berharap agar keturunannyalah yang akan menjadi penerus kerajaan. Tapi semua ini tidak dikabulkan oleh Sutan Musa.

Disaat Maharaja Awan telah ditabalkan menjadi raja Kotapinang ketiga, semakin bertambahlah kemarahan dalam hati sang anak dari istri kedua tadi. Hal ini terjadi karena sudah sejak awal (sebelum adanya penunjukan Maharaja Awan menjadi raja) dia mengusulkan agar bisa menjadi raja menggantikan Sutan Musa. Akhirnya, dengan amarah yang membara, dia meninggalkan istana tanpa pamit. Kepergiannya juga membawa seekor ayam Kinantan, ayam jago keturunan dari Minangkabau.

Dalam perantauannya, hampir disetiap tempat, dia akan menyabung ayam jagonya dengan ayam-ayam lain. Tiap disabung, ayam Kinantan tersebut selalu menang. Berbulan-bulan anak Sutan Musa ini melakukan perjalanan, menjelajahi kampung demi kampung. Hingga akhirnya sampailah dia ke daerah Aceh, pada masa itu diperintah oleh Sultan Iskandar Muda.
Pada saat kedatangannya ke Aceh, disalah satu perkampungan sedang terjadi sabung ayam. Lalu dia melibatkan diri dalam permainan sabung ayam tersebut. Dalam sabung ayam ini, ayamnya (Kinantan) juga selalu menang dan akhirnya membuat dirinya menjadi cukup dikenal oleh orang-orang kampung. Ternyata Sultan Iskandar Muda juga mendengar hal ini. Sultan juga mempunyai seekor ayam jago yang jarang mendapat lawan tanding yang seimbang.

Karena Sultan juga mempunyai seeokor ayam jago, lalu dia menyuruh panglimanya untuk memanggil anak Sutan Musa tersebut menghadap ke istana. Anak Sutan Musa ini tidak pernah berfikir akan menemui seorang Sultan hanya karena ayam jagonya.



Kamis, 07 April 2011

Lapisan Sosial Masyarakat Melayu

Posted by winzCyber 03.23, under | 7 comments

Tingkatan lapisan sosial Masyarakat Melayu pada dasarnya sudah ada sebelum masa kolonial walaupun pada masa itu belum begitu kental terlihat dan memasyarakat.
Setelah cukup terbukanya hubungan dengan dunia luar, adanya hubungan perdagangan dengan negara asing, wilayah-wilayah di beberapa Kerajaan Melayu dijadikan kawasan perkebunan asing, akhirnya perubahan yang semakin kompleks terjadi terhadap pelapisan sosial masyarakat Melayu di Sumatra Timur.

Yang paling mendukung terjadinya perubahan ini adalah bertambahnya pembagian wilayah akibat bertambahnya jumlah penduduk yang akhirnya menambah "petugas" yang akan mengurus wilayah-wilayah yang baru tersebut, ditambah lagi adanya campur tangan bangsa asing (misalnya Belanda) untuk ikut menentukan siapa-siapa yang akan ditunjuk sebagai "petugas" tersebut.

Tingkatan sosial masyarakat Melayu pada dasarnya hanya mengenal 2 golongan, yaitu :

1. Kaum Bangsawan
2. Rakyat Kebanyakan (rakyat jelata)

Kaum Bangsawan dibedakan atas beberapa tingkatan, yaitu :
1. martabat (jasa)
2. jarak sosial
3. jarak hubungan kekerabatan dengan sang penguasa (Sultan)

Adapun tingkatan-tingkatan kebangsawanan tersebut yaitu :
1. Tengku
   Gelar Tengku digunakan untuk keturunan Sultan dan kerabatnya, juga untuk keturunan atuk-neneknya yang mempunya daerah sendiri pada masa lalu yang dipanggil dengan sebutan Tuanku.

Pemberian gelar Tengku hanya diberikan kepada seseorang yang mana orang tuanya memakai gelar tengku ataupun ayahnya yang memakai gelar tengku. Gelar kebangsawanan ini hanya diteruskan berdasarkan garis keturunan ayah. Artinya, jika ayahnya bukan tengku, tapi ibunya bergelar tengku, maka sang anak tidak berhak memakai gelar tengku.


2. Raja
  Adapun gelar kebangsawanan Raja di masyarakat Melayu, terutama Sumatra Timur, tidak sama pengertiannya dengan gelar Raja di daerah lain.  Pada masa kolonial Belanda, Raja adalah suatu tingkatan atau kedudukan yang menunjukkan tingkatan paling atas (kepala) yaitu mereka-mereka yang menguasai wilayah hukum yang luas ataupun kecil yang terdiri dari 4-5 rumah tangga.

Namun, pengertian pengertian gelar Raja ini berbeda dengan yang ada di masyarakat Melayu, seperti yang dipaparkan oleh Sultan Deli Tengku Amaluddin dalam suratnya yang ditujukan kepada Gubernur Sumatera Timur pada tahun 1933, yaitu gelar Raja digunakan pada seseorang jika seorang wanita yang memiliki gelar tengku dan memiliki suami atau menikah dengan seorang bangsawan asli, misalnya "raden" dari tanah jawa atau bangsawan asli dari Pagarruyung "sutan" (sumatera barat), maka anak-anaknya berhak memakai gelar "Raja".


3. Wan
    Penggunaan gelar Wan pada nama seseorang yaitu apabila seorang wanita yang memiliki gelar Tengku atau Raja menikah dengan orang kebanyakan, maka anak-anaknya memperoleh gelar Wan. Gelar ini akan diteruskan oleh anak laki-laki (garis keturunan diambil dari pihak laki-laki). Sedangkan wanita, disesuaikan dengan siapa kelak ia akan menikah. Jika martabat (derajat sosial) suaminya lebih rendah, maka gelar Wan ini bisa menjadi hilang (tidak bisa dipakai oleh anak-anaknya).


4. Datok / Datuk
   Selanjutnya adalah gelar Datok / Datuk. Gelar ini merupakan gelar yang diberikan oleh Sultan karena beberapa hal.

Sebenarnya, Gelar "Datok" ini merupakan sebuah gelar yang diperoleh dari Kesultanan Aceh (bukan murni gelar dalam masyarakat Melayu) yang diberikan pada seseorang yang memiliki wilayah otonomi pemerintahan yang mempunyai batasan antara dua sungai, dan mereka ini juga dinamakan "Datuk Asal".


5. Incek / Encik dan Tuan
    Incek / Encik dan Tuan adalah panggilan kehormatan kepada seseorang, laki-laki atau perempuan, dengan maksud untuk memuliakan/menghormatinya. Panggilan ini hanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.

Inilah Tingkatan-tingkat gelar Kebangsawanan Melayu yang paling utama. Semoga pemahaman kita semakin bertambah dengan mengetahui asal-usul adanya penggunaan gelar yang melekat pada seorang warga Melayu.

Saya sangat berharap sekali jika ada kesalahan ataupun kekurangan dalam pemuatan Stratifikasi Sosial Masyarakat Melayu ini mohon kiranya dikoreksi, bisa melalui email ataupun kolom komentar.


Senin, 04 April 2011

KERAJAAN KOTAPINANG

Posted by winzCyber 02.29, under | 12 comments

SEJARAH DATANGNYA ANAK-ANAK SUTAN ALAMSYAH SYAIFUDDIN, RAJA NEGERI PAGARRUYUNG KE DAERAH LABUHANBATU dan TAPANULI SELATAN

Adapun Sejarah Kerajaan Kotapinang ini disusun oleh penulis (Raja Azman Syarif-alm) dengan bantuan Tengku Khairuddin, yaitu salah satu keturunan Kerajaan Kotapinang, yang mana cukup mengetahui akan sejarah lahirnya Kerajaan Kotapinang.
Penulisan Sejarah datangnya anak-anak Sutan Alamsyah Syaifuddin juga berdasarkan berbagai dokumen yang dikumpulkan, salah satunya adalah LAPORAN PIHAK KERAJAAN KOTAPINANG KEPADA ASISTEN RESIDENT ASAHAN, DENGAN SURATNYA YANG BERNOMOR 4/M v0/5 TERTANGGAL 12 NOVEMBER 1924, DIKELUARKAN DI KOTA BAHRAN (KOTAPINANG), DITANDATANGANI OLEH SERIPADUKA YANG DIPERTUAN KOTAPINANG (DIPERTUAN MUSTHAFA PERKASA ALAMSYAH).

Dari hasil penelusuran sejarah, Penulis dan Tengku Khairuddin membantah cerita diluaran mengenai Sejarah Kerajaan Kotapinang yang menyangkut anak-anak Sutan Alamsyah memasuki daerah ini, yang banyak terjadi kesimpangsiuran dan bertolak belakang dengan fakta.
Karena terjadi banyak kesimpangsiuran ini maka penulis dan Tengku Khairuddin mengambil satu kesimpulan demi meratakan jalanya sejarah daerah ini dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan dari keturunan masing-masing.

Disekitar tahun 1520 Masehi, sesuai petunjuk Tambo yang ada, di Minangkabau (Sumatera Barat), terdapat Kerajaan Pagarruyung. Pada masa itu diperintah oleh Sutan Alamsyah Syaifuddin.
Berapa orang anak dari Sutan Alamsyah Syaifuddin tidak diketahui dengan jelas. Namun yang pasti (sesuai aturan yang berlaku), anaknya yang tertua tentulah menjadi raja menggantikan ayahnya. Selain itu terdapat lagi 3 orang anaknya (kalau memang betul) yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 1 wanita :

1. BATARA GURU GORGA PINAYUNGAN, atau juga dikatakan Marhum Mangkat di Rotan Mumuk Pinangawan (Kotapinang), merupakan Raja Kotapinang pertama yang berkedudukan di Pinangawan.
Nama ini kemungkinan bukan nama yang sebenarnya di Pagarruyung, hanya setelah meninggalkan istana, jatuh ke daerah Bagan Sinombah dan Pinangawan, kemudian oleh masyarakat dijadikan raja. Nama Batara Guru Gorga Pinayungan, diduga dibuat oleh masyarakat Tambak/Dasopang, yang mendiami daerah itu pada mulanya.

2. BATARA GURU GORGA PAYUNG, atau juga dikatakan SUTAN KUMALA YANG DIPERTUAN, yang jatuh ke daerah Penyabungan Mandailing (Tapanuli Selatan) dan dijadikan raja di daerah itu. Nama ini juga kemungkinan bukan nama yang sebenarnya, sama seperti  abangnya Guru Gorga Pinayungan.

3. PUTRI LINGGANI, atau juga dikatakan PUTRI LEGEN, turut bersama abangnya Guru Gorga Pinayungan.

Adapun penyebab kedatangan anak-anak Sutan Alamsyah Syaifuddin ke Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan tidak dapat diketahui dengan jelas.

Menurut kisahnya, berdasarkan hasil laporan Raja Kotapinang kepada Asisten Resident Asahan, tiga bersaudara ini pergi meninggalkan Istana Pagarruyung, bersama mereka terdapat seekor anjing pemburu yang bernama "Cempaga Tua". Menurut Tambo Bilah dan Panai, selain seekor anjing, terdapat pula 2 ekor ayam Kinantan (ayam jago) dan sebuah tongkat berkepala emas.

Tags


Lambang Kabupaten Labuhanbatu

Rantau Prapat

Rantau Prapat
Kantor Pos dan Telephon pada tahun 1934

Labuhanbilik

Labuhanbilik
Biro Imigrasi untuk pendatang dari Jawa (kuli kontrak-1925) di Labuhanbilik

Istana Kotapinang

Istana Kotapinang
Istana Kesultanan di Kotapinang

Istana Bilah

Istana Bilah
Istana Kesultanan Bilah di Negerilama

Istana Maimun

Istana Maimun
Istana Sultan Deli - 1897

Istana Kerajaan Siak